Merawat Kucing Karena Ketidak Sengajaan
Seperti biasa, setiap pagi aku selalu membuang sampah di depan rumah. Aku mulai melangkah dengan santai, membawa kantong berisi sampah, sekaligus sembari menghirup udara pagi yang masih bersih.
Mengingat ini adalah hari libur, jalanan tidak begitu ramai dengan kendaraan bermesin. Perlahan aku letakkan kantong tersebut di tempat pembuangan sampah umum. Ketika aku akan melangkah pergi, suara kucing itu kembali terdengar di telingaku. Suaranya terdengar nyaring, bisa ditebak jika suara itu adalah anak kucing. Aku berniat mencari kucing tersebut, yang akhir-akhir ini memang selalu terdengar di pagi hari.
Sekilas aku melihat seekor kucing muncul dari bawah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ia seperti sedang terburu-buru. Tapi bukan itu kucing yang aku maksud, dia terlalu besar untuk suara kucing yang melengking dengan lemah. Mungkin dia adalah induknya, pikirku. Aku mencoba melihat, ada apa di bawah mobil tersebut. Kosong. Kucing kecil tersebut tidak ada di sana. Namun, di sebelah mobil itu ada gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu orang.
Saat aku masuk ke dalam gang, suara kucing kecil itu semakin terdengar jelas. Aku belum menemukan kucingnya. Lalu dari arah belakangku, si induk kucing kembali berlarian ke arah depan. Aku mengikutinya dan berhenti di ujung gang. Induk kucing tersebut berjalan ke anaknya yang membuatku sangat terkejut. Seekor kucing kecil terjepit oleh dua dinding. Dia terus saja mengeluarkan suara seolah meminta tolong pada siapa pun yang melihatnya untuk membantunya keluar. Induk kucing yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menemani anaknya sambil sesekali membawakan makanan. Hal tersebut terlihat dari makanan yang berserakan di depan anak kucing.
Dengan perlahan aku mulai menariknya keluar, induk kucing juga melihatku menyelamatkan anaknya. Setelah berhasil keluar, aku mengecek kondisi fisik dari anak kucing itu. Tubuhnya sangat kurus, serta terdapat beberapa luka di tubuhnya. Aku pikir, mungkin saja itu dikarenakan usaha dia yang ingin segera keluar dari kedua dinding yang mengapitnya.
Aku menceritakan kucing yang aku temukan pada temanku, Risa. Dia memang sangat menyukai kucing, bahkan ia memiliki banyak sekali kucing di rumahnya.
"Aduh, kasihan banget nih," respon Risa.
"Aku enggak ada pengalaman tentang hewan-hewan, gimana dong?"
"Ya udah, kamu bawa aja kucing ini ke dokter hewan. Ayok sama aku."
Risa mengajakku untuk membawa anak kucing itu ke dokter hewan. Karena pengetahuanku tentang hewan, terutama kucing, jadi aku hanya menuruti saran dari Risa. Segera aku bawa anak kucing itu ke dokter hewan, yang tidak begitu jauh dari rumahku. Aku membawa kucing itu dengan kandang kucing milik Risa, dengan motorku. Di sepanjang perjalanan, anak kucing itu terus mengeluarkan suaranya yang lemah. Setelah sampai, aku dan Risa membawa anak kucing itu kepada dokter yang sedang jaga di dalam.
Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa kondisi anak kucing itu sangat lemah. Tentu saja, itu karena dia kurang mendapatkan asupan makanan. Untuk mengambil makanan yang dibawakan induknya saja sulit, terlihat dari bagaimana dia terjepit. Lalu, ditambah luka robek yang ada di tubuhnya, dokter menyarankan agar anak kucing tersebut dirawat beberapa hari. Aku pun menyetujui saran dari dokter. Aku sangat berharap, jika kucing itu akan selamat, dan mungkin aku akan memeliharanya.
Jika ada kesempatan, aku menjenguk anak kucing tersebut. Dan syukurlah, semakin hari keadaan anak kucing itu membaik. Dia juga terlihat makan dengan lahap. Beberapa bagian dari tubuhnya ditempeli banyak sekali perban, kata dokter luka anak kucing itu memang perlu dijahit. Aku sedikit ngilu melihat kondisi anak kucing tersebut. Tetapi setidaknya, keadaannya membaik, daripada saat aku temukan tempo hari.
Di lokasi dimana aku menemukan anak kucing itu, aku terus melihat induk kucing yang terus mencari anaknya. Bahkan ia selalu menunggu di depan dinding yang sempat melukai anaknya. Aku berjongkok di depan induk tersebut sembari mengelusnya.
"Sabar ya, aku sedang menyelamatkan anakmu," ucapku pada induk kucing tersebut.
Kucing itu hanya mengedipkan kedua matanya, dan ku anggap itu adalah sebuah jawaban dari perkataanku. Aku meletakkan daging kaleng yang baru ku beli. Setidaknya, dengan menunggu anaknya sembuh, induk kucing juga perlu menjaga kesehatannya. Awalnya kucing tersebut hanya menatap daging itu, lalu perlahan ia mulai mencium aroma yang ada di dalam kaleng tersebut. Akhirnya, daging tersebut pun mulai dimakan sedikit demi sedikit. Aku tersenyum melihatnya.
Keesokan harinya, aku kembali mengunjungi anak kucing itu. Dia bahkan seperti menurut padaku. Keadaannya sudah membaik sekarang, tubuhnya sudah sedikit lebih gemuk, serta lukanya mulai mengering. Dokter berkata jika anak kucing itu sudah bisa dibawa pulang. Aku berterima kasih pada dokter, karena telah membantu anak kucing itu pulih. Aku akan membawa anak kucing itu pulang bersamaku ke rumah.
Aku dibantu Risa membawa anak kucing itu kembali ke rumah, dan bertemu kembali dengan induknya. Sesampainya di rumah, aku meletakkan kucing itu dan membiarkannya untuk berjalan menuju induknya. Meskipun lukanya sudah sembuh, tetapi di tubuhnya masih dipasang beberapa perban, untuk menutupi lukanya. Akhirnya, sekarang suara merintih dari anak kucing di pagi hari sudah tidak ada. Yang ada hanyalah suara anak kucing yang merasa bahagia bersama induknya.
Kedua kucing itu kini bersamaku. Sudah hampir sebulan kami bersama. Ketika aku memiliki waktu senggang, aku selalu bermain bersama mereka. Meskipun mereka hanyalah kucing liar, tapi aku selalu memastikan bahwa mereka selalu bersih dari kotoran. Maka dari itu setiap seminggu sekali aku selalu membawa induk kucing ke tempat pemandian hewan. Karena aku sendiri baru pertama kali merawat hewan, jadi aku takut untuk membersihkannya sendiri. Sedangkan untuk anak kucingnya, aku hanya membersihkan bulu-bulunya saja, karena kata Risa anak kucing belum boleh dimandikan.
Hingga suatu hari, hal yang tidak aku inginkan terjadi. Betapa terkejutnya aku, setelah menemukan induk kucing terbaring lemas dengan mata yang setengah terbuka. Perlahan aku mulai menyentuh tubuhnya, dan ia bergetar hebat. Aku kembali menarik tanganku. Perasaanku mulai bingung, cemas, serta khawatir. Aku menatap kucing itu dengan penuh tanda tanya di kepalaku. Karena bingung harus melakukan apa, aku hanya berdoa dan mencari kain untuk menutupi tubuhnya yang aku pikir mungkin saja dia menggigil kedinginan. "Apa yang terjadi padamu?" pikiranku dipenuhi dengan hal-hal negatif.
Tak lama kemudian ia bangkit, entah apa yang ia lakukan, aku membiarkannya. Kucing itu berjalan menuju sebuah tempat penuh tanah di halaman rumahku. Aku mengikutinya dari belakang, dan sungguh, aku lebih terkejut daripada tadi. Ia memuntahkan isi perutnya. Bukan, bukan sejenis sisa makanan atau susu yang aku berikan. Melainkan kucing ini memuntahkan hewan lain yang aku pikir mereka lebih mirip cacing gulung. Ia terus mengeluarkannya dengan tubuh yang bergemetaran. Setelah dirasa ia telah mengeluarkan semuanya, aku mengangkat kucing itu dengan diselimuti kain dan meletakkannya di kandang kucing. Dengan wajah cemas dan deg-degan, aku berjalan menuju rumah Risa.
"Risa!!" Aku memanggil namanya terus menerus, tapi tidak ada satu pun tanda bahwa Risa atau orang yang di dalam menghampiri.
"Risa!!" Aku kembali memanggil namanya. Lalu, akhirnya seorang perempuan sebayaku dengan mengenakan pakaian santai ke luar dari rumahnya.
"Ada apa, Lusi?" tanyanya kepadaku.
"Ikut denganku sekarang! Kucingku dalam bahaya." Aku langsung menarik lengannya dan membawanya ke rumahku, lebih tepatnya ke tempat di mana kucing itu berada. Kucing itu kini terduduk lemas masih dengan tubuh yang gemetar. Akhirnya, aku memisahkan kucing yang baru saja muntah itu dengan anaknya. Aku melihat anak kucing itu sedang terduduk menghadap kandang induknya.
Aku membawa Risa ke tempat muntahan induk kucing tadi.
"Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja saat aku ingin melihat keadaannya, ia lemas dan memuntahkan isi seperti itu," terangku pada Risa yang menatap muntahan kucing itu dengan miris.
Risa buru-buru mengangkut kandang induk kucing yang berada di dalam dan membawa induk kucing itu ke dokter hewan. Aku mengikutinya dari belakang. Dia begitu panik, sampai aku pun ikut panik, bahkan lebih panik dari sebelumnya. Aku takut, sesuatu yang mengerikan terjadi. "Gimana si Lus, kucing muntah cacing itu udah bahaya banget. Itu bukan muntah biasa," ujarnya setibanya di klinik hewan.
Aku meminta maaf. Aku tak mengerti. Dan aku mengucapkan terima kasih padanya. Akhirnya, dokter hewan berparas cantik itu keluar. Syukur, induk kucing tersebut tidak apa-apa dan diperbolehkan langsung dibawa pulang.
"Ris... aku takut untuk memelihara induk kucing ini setelah kejadian tadi," ujarku parau.
"Loh kenapa harus takut? Aku bantuin kamu deh, Lus," rayu Risa.
Aku tetap kekeh bilang takut, namun Risa tetap mendorongku untuk membawa pulang induk kucing seperti sedia kala. Dan aku tetap menolak, bilang takut. Risa mendorongku lagi. Begitu terus percakapan kita sedari tadi.
Akhirnya, kesepakatan pun terjadi. Risa mau merawat induk kucing, asalkan anak kucing pun ikut. Karena katanya, anak kucing yang masih kecil menjadi lebih manja ketika sudah dipisahkan dengan induknya saat itu juga. Mendengar penjelasan itu, aku malah lebih suka karena anak kucing itu bisa bermanja denganku. Aku menawarkan Risa merawat induknya, sementara aku anaknya. Lagi, kesepakatan kedua pun terjadi.
Risa membawa kandang induk kucing ke rumahnya, sementara aku pulang dengan membawa makanan untuk anak kucing. Setiba di rumah, anak kucing itu terus mengeong-ngeong padaku. Aku tahu, dia mencari induknya. Ku tenangkan dia dengan whiskas yang aku bawa.
Semenjak hari itu, aku hanya merawat anak dari kucing itu. Bertambahnya waktu, anak kucing itu semakin besar, bahkan ukurannya hampir menyamai dengan induknya. Selama berbulan-bulan aku memiliki kesibukan, hingga tak sempat melihat induk kucing di rumah Risa. Aku sendiri juga terlalu fokus untuk mengurus anak kucing itu. Hingga suatu pagi, ketika aku sedang menyapu rumah, Risa mendatangiku dan memberikanku sebuah kabar.
"Lusi, aku minta maaf. Aku tak bisa merawat kucing yang kamu titipkan padaku, saat aku terbangun di pagi hari, aku menemukannya tergeletak dengan penuh busa di mulutnya." Aku terdiam cukup lama. Aku bingung ingin berkata apa. Tentu saja aku merasa sedih mendengarkannya. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku masih terdiam. Lalu, aku merasakan kegelian di kakiku, ternyata anak kucing itu sedang mengelus kakiku dengan manja. Ku gendong ia, dan ku dekap erat. "Yang sabar yaa, Sayang. Aku tetap ada untukmu," ucapku sambil mengusap kepala anak kucing itu. Ia hanya mengedipkan mata. Mungkin ia ingin menyampaikan bahwa, ia ikhlas dengan kepergian induknya. Hal tersebut membuatku sangat terharu.
Published by Majalah Pabelan Edisi Februari 2020: Perlakuan terhadap Hewan Preservasi atau Eksploitasi
(https://issuu.com/lpmpabelan/docs/majalah_pabelan_februari_2020)
Post a comment