Sebuah Kejutan yang Tidak Terduga
Judul : Orang-Orang Biasa
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : cetakan pertama, 2019
Tebal Buku : xii +300 Halaman
"Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkahnya anak-anak orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaknya hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!"
Novel ini merupakan novel ke-10 yang diterbitkan oleh Andrea Hirata. Novel ini diterbitkan berdasarkan kekecewaan besar akan kegagalannya memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar, untuk masuk fakultas kedokteran di universitas negeri ternama. Cerita novel ini dimulai dengan deskripsi Kota Belantik yang naif. Seakan penduduknya telah lupa cara berbuat jahat, hingga seorang inspektur dan sersannya dilanda paradoks tanggung jawab. Mereka merasa tidak berguna dan berpengaruh sebab keadaan kota memang aman dan tenteram dari tindak kejahatan. Namun, seiring berjalanya waktu, suatu tindakan kejahatan mulai terendus oleh keduanya.
Pada bab selanjutnya, menceritakan kisah sepuluh orang biasa yang berteman sejak kecil, berlanjut hingga mereka dewasa. Sepuluh orang tersebut menjadi teman karib karena keadaan nasib yang hampir sama mengenaskannya. Mereka semua merupakan penghuni bangku belakang sekolah selama bertahun-tahun berada di sekolah. Salah satu diantara mereka, bahkan menjadi korban bullying.
Orang-orang yang mem-bully tersebut adalah Trio Bastardin, Jamin, dan Tarib. Ada juga Duo Baron dan Bandar. Ketika mereka beranjak dewasa, ada yang sudah menikah, ada yang sudah memiliki keturunan, ada yang membuka usaha, dan ada yang menganggur sambil terus berandai-andai.
Pun setelah dewasa, kehidupan mereka (sepuluh orang biasa-red) tetap menyedihkan. Ada yang menjadi orang tua tunggal, ada yang menjadi sopir, ada yang menjadi guru honorer, ada yang berganti pekerjaan karena selalu berbuat onar dengan hobi selalu berswafoto, bahkan ada yang menyebut dirinya seorang motivator namun tak seorang pun mengundangnya.
Dalam novel ini, sosok yang paling menonjol adalah Dinah. Dinah merupakan seorang janda dengan 4 anak. Awalnya anak-anak Dinah seakan tidak berani mempunyai cita-cita, karena untuk belajar saja sudah kesulitan. Anak sulungnya, Aini, sering mendapatkan nilai jelek. Bagi Dinah, Aini adalah sosok Dinah ketika masa sekolah. Tetapi hal tersebut berubah ketika ayah Aini jatuh sakit dan meninggal. Suatu ketika, Aini mengalami perubahan ekstrem di mana awalnya ia sering mendapatkan nilai jelek, lalu berubah menjadi sangat bagus. Perubahan nilai tersebut, mengantarkanya lulus dalam tes masuk Fakultas Kedokteran di sebuah universitas ternama.
Namun, permasalahan mulai muncul, untuk memasuki Fakultas Kedokteran dibutuhkan biaya yang sangat besar. Sang ibu, Dinah berusaha mencari jalan keluar dengan meminjam uang ke koperasi hingga ke bank. Sayangnya, tiada satupun yang berhasil mengabulkan keinginannya. Hingga akhirnya, ia putus asa mencari alternatif lain untuk mendapatkan pinjaman dana yang dibutuhkan. Lalu, Dinah pergi menemui sepuluh sahabatnya untuk mencurahkan isi hatinya. Hasil musyawarah tersebut melahirkan sebuah keputusan, bahwa mereka sepakat untuk merampok bank, untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin agar dapat memasukkan Aini ke Fakultas Kedokteran.
Novel ini memiliki plot twist yang tak terduga. Diceritakan, proses perampokan bank tersebut oleh komplotan orang bodoh yang memiliki imajinasi menakjubkan di otaknya. Mereka juga berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal oleh beberapa humor yang disajikan. Terkaan pembaca buku ini akan banyak memunculkan penggunaan bahasa daerah, namun nyatanya bahasa daerah yang disajikan tidaklah banyak.
Di novel ini juga menceritakan masa sekarang. Terbukti dengan munculnya kata-kata seperti Facebook, Internet, bahkan di berbagai halaman menyebut Kupi Kuli. Warung kopi yang ada di Museum Kata milik Pak Cik Andrea Hirata. Ritme yang cukup santai ini berbanding terbalik dengan beberapa bab menjelang tamat. Berbagai cerita dibuat makin cepat, meski begitu tak banyak kejutan yang didapatkan. Selama membaca buku tersebut, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil. Bahkan tidak terlihat kekurangan apa yang ada di buku ini. Namun, pada bab bagian cerita tertentu, Andrea Hirata tidak menjelaskan secara detail, pembaca dibuat bingung mengapa hal tersebut dapat terjadi, seakan penulis terburu-buru ingin mengakhiri ceritanya.
Published by Tabloid Pabelan Pos Edisi Agustus 2020
(https://issuu.com/lpmpabelan/docs/tabloid_126_upload)
Post a comment