← Back

Sejuta Rindu untuk Ibu

Langit yang tadinya tampak cerah dengan bintang yang bertaburan, kini berakhir dengan menjatuhkan jutaan rintik air ke dalam bentala. Deru angin yang menyapa ranting pohon, membuatnya bergerak kalut mengusir siapa saja yang sedang menetap sementara. Aroma petrikor menembus lubang udara pada kamar, lalu menguar memasuki indra penciuman.

Gadis itu sejenak memalingkan kedua iris hazel itu dari layar laptop, lalu melihat bagaimana hujan turun dengan derasnya pada jendela kamar. Agaknya ia hanya dapat menghela nafas, sembari melepaskan kacamata yang sejak sore bertengger di hidungnya. Suara alunan musik samar-samar mulai tertutup oleh petir yang menyambar.

Lampu kamar yang dibiarkannya mati pun menambah suasana kengerian. Rida mengambil gawainya dan mendapati beberapa pemberitahuan yang muncul. Lalu, ah jam yang tertera sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jika saja tugasnya sudah diselesaikan sejak siang, mungkin perutnya kini sudah kenyang dengan makanan. Jangan lupakan camilan yang ingin dibelinya untuk dinikmati di dalam kamar, pasti perutnya tidak akan kosong.

Begitulah yang dirinya bayangkan saat ini. Di tengah lamunannya, agaknya ia menyadari jika suara alunan musik pada pengeras suara sudah tidak terdengar lagi. Mungkin saja hal tersebut akibat pengaruh hujan lebat di luar, pikirnya dengan yakin. Tidak perlu khawatir, sudah terbiasa seorang Rida menghadapi situasi seperti ini. Memangnya apa yang akan terjadi? Benda yang bergerak sendiri seperti di film atau suara ketukan pintu dari luar kamar.

Jantung Rida seakan berhenti berdetak diikuti telinga yang mulai berdengung. Suara ketukan pintu dari luar kamarnya, sukses merebut seluruh atensinya saat ini. Hanya tiga ketukan dengan irama yang pelan dan terikan seorang wanita yang biasa dipanggilnya Ibu,

“Apa yang sedang kau lakukan di kamar?” Rida tak menyahut.

“Cepat tidur, ini sudah malam.”

Setelahnya suara teriakan itu lenyap begitu saja, seakan ditelan oleh rintikkan hujan yang sangat deras. Pada akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas, gara-gara tugas ini dirinya jadi tidak bisa merasakan nikmatnya sepiring nasi dengan ayam, lalu secangkir teh ataupun jeruk hangat.

Rida menegakkan punggungnya, sedikit merapikan rambutnya yang mulai menutupi wajahnya. Lantas mematikan pengeras suara. Sebelum benar-benar berpindah menuju kasurnya, ia menatap deretan tulisan yang sudah ia ketik sebanyak sepuluh lembar. Masih kurang lima lembar lagi untuk memenuhi batas minimal yang diperintahkan oleh dosennya. Ia menimang-nimang waktu yang diperlukannya untuk menyelesaikan seluruh tugas. Besok pagi dirinya sudah harus bangun lebih pagi dari biasanya, karena jika dipaksakan untuk mengerjakan malam ini, suara ibunya akan kembali terdengar.

Tangannya segera bergerak lincah sembari menekan tombol pada mouse yang tersambung pada latopnya. Matanya sedikit terkejut dengan pandangannya yang mulai gelap. Diraihnya gawai itu lalu mulai menyalakannya agar ada sedikit cahaya yang dapat menuntunnya menuju tempat ternyaman yang akan disinggahinya. Setelah menjatuhkan kepala di atas bantal, sejenak ia merasakan pening di kepalanya. Benar-benar tugas yang menguras tenaga.

Keesokannya, Rida mendapati kantung matanya dalam pantulan cermin sudah mulai kembali menghitam. Sedikit lagi matanya akan mirip dengan hewan yang gemar memakan batang bambu tersebut. Namun, setidaknya tugas dengan batas waktu pengumpulan pada pagi hari, sudah selesai dikerjakan sekaligus berubah wujud menjadi hardfile.

Tersisa beberapa menit lagi untuk mempersiapkan diri menuju kampus. Teriakan dari luar kembali muncul, “Sebelum pergi, jangan lupa sarapan dulu ya.” Tetapi kali ini Rida menghiraukannya, tak ada waktu untuk merespon perintah yang setiap pagi selalu didengarnya. Begitu teriakannya menghilang, Rida memberanikan diri untuk melangkah mendekati pintu. Menjatuhkan gagang dan pintu pun terbuka.

Hening, tidak ada siapa-siapa. Nampak hampa tanpa adanya kegiatan yang telah terjadi. Perlahan indera penciumannya menangkap bau busuk yang tidak sedap. Baunya persis seperti makanan busuk dan itu berasal dari makanan yang tertutupi tudung saji di atas meja makan. Saat itu juga Rida menyadari bahwa, kemarin pagi dirinya membeli sebungkus makanan dan tidak dihabiskan karena terlalu asik untuk menjelajahi gawainya. Ia pun segera membuang makanan tersebut dan segera pergi menuju kampus.

Sang mentari telah bergerak menjulang ke atas menyinari sebagian bumi, namun beberapa awan abu-abu yang menggembung pekat di bumantara telah sukses menghalanginya. Sehingga tampak lebih gelap daripada siang di hari biasa. Hujan. Rida agaknya hanya dapat menerima keadaan. Ia tidak membawa payung sama sekali. Tidak terpikirkan olehnya bahwa siang ini akan turun hujan, mengingat malam sebelumnya hujan juga telah datang membasahi bumi.

Rida belum menapakkan kakinya untuk berpindah tempat, ah lebih tepatnya dari lantai dua gedung dengan deretan ruang kelas. Ia melirik orang-orang di bawahnya yang sedang berlarian mengindari air yang berjatuhan tanpa ampun. Netranya menangkap sosok temannya yang tengah dihampiri ibunya dengan menggenggam gagang payung, berusaha untuk mencegah agar anaknya pulang dengan badan yang kering. Miris, sudah lama Rida tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Tangannya merogoh earphone yang berada di tas, lalu memasangkannya pada telinga, melupakan perasaan rindu yang tengah dirasakannya.

Malam kembali menghampiri bersamaan dengan bintang dan juga bulan yang menghiasi langit. Seperti biasa, di kamar Rida nyaris tak ada cahaya sama sekali, kecuali dari layar laptopnya yang menyala. Suara alunan musik yang memenuhi ruangan sedikit menenangkannya dari kesepian yang menggerogoti. Ah kali ini berbeda dari malam sebelumnya, ia sudah menyiapkan beberapa makanan untuk disantap seraya mengerjakan tugas.

Kepala Rida perlahan mengangguk mengikuti tempo lagu yang semakin cepat. Bahkan mulutnya sudah bersiap untuk menyanyikan poin dari lagu tersebut, tetapi pengeras suaranya mati begitu saja termasuk lagu pada gawai yang disambungkannya melalui fitur Bluetooth. Kedua alisnya bertaut keheranan membentuk sedikit kerutan pada dahinya.

Benda yang baru saja dibelinya satu bulan yang lalu mati tanpa sebab, dan hal tersebut telah terjadi beberapa kali setiap malam. Khusus malam ini ia merelakan keheningan menemaninya mengerjakan tugas. Hawa dingin yang berhembus hingga melunyah raga teradun pegal dan lelah, membuat pening kembali muncul pada kepalanya. Hingga sebuah teriakan terdengar cukup jelas di telinganya.

“Maaf sayang, ibu hanya ingin ke kamar mandi dan tidak sengaja menyenggol panci.” Anggap saja itu memang benar, sudah cukup dengan tugas gila ini, ia tidak ingin berurusan dengan pencuri atau apapun itu.

Pada musim hujan kali ini, langit sulit untuk diprediksi oleh siapapun, bahkan oleh perkiraan cuaca dari gawai yang terbilang sudah canggih. Windy langsung merebahkan tubuhnya begitu memasuki kamar, sedangkan Rida hanya duduk di pinggiran kasur membuka gawainya untuk melihat pemberitahuan yang muncul.

Sedetik kemudian ponselnya bergetar menampakkan sebuah nama yaitu ibu. Rida bergeming. Tangannya tetap berada pada posisi awal tanpa menjawab panggilan tersebut, hingga dengan sendirinya berhenti.

Windy merebut gawai dari tangan Rida dan berkata, “Udah nggak usah dijawab.” Tatapan yang diberikan Windy cukup menenangkan jiwanya untuk sementara waktu. Kembali benda berbentuk pipih itu bergetar, tetapi kali ini meninggalkan sebuah pesan dari ibu yang berisi, ‘Ibu di rumah sendirian, kamu dimana?’

Paginya, Rida berpamitan pada Windy dan juga keluarganya. Ia tidak bisa terus menerus berada di rumah temannya itu, meskipun keluarganya sudah mengizinkan untuk tinggal sejenak beberapa hari. Dengan berat hati, Rida tetap melangkahkan tungkainya untuk memasuki rumahnya lebih dalam menuju kamar. Hening. Keadaan rumahnya masih sama sejak ia tinggalkan untuk pergi ke kampus. Ketika sudah berada di kamar, lantas menjatuhkan diri di atas kasur, menenggalamkan diri pada pikirannya.

“Kamu sudah pulang nak? Ibu sudah membuatkan sup di meja makan.” Kalimat yang diucapkan ibunya itu berbeda dari pagi sebelumnya.

Kepergiannya semalam telah sedikit merubah keadaan. Rida bangkit dan menuju pintu yang selalu ditutupnya setiap saat. Tangannya gemetar tatkala memegang gagang pintu kayu itu. Sedikit ragu untuk menekannya ke bawah dan menariknya. Hingga akhirnya pintu tersebut sudah terbuka, menampakkan suasana rumahnya yang masih tetap hening. Bahkan dapur yang tak jauh dari tempat Rida berdiri tampak bersih dan rapi.

“Kamu harusnya bilang kalau sudah pulang ke rumah.”

Seketika degub jantung Rida berdetak gila kala mendapati presensi dari seorang wanita paruh baya, yang mirip dengan ibunya. Telah berada di depannya sekarang, dengan tatapannya yang tajam seakan dapat mengunci seluruh pergerakan hanya lewat sorot mata yang terpancar. Bibirnya yang hitam menyeringai membuat kulit pucatnya sedikit terangkat.

Tubuh Rida seakan terkunci dan sulit digerakkan, bahkan hanya untuk sekedar memeriksa gawainya yang bergetar. Menampilkan sebuah pengingat pada kalender di gawainya dengan tulisan berisi, ‘Memperingati Hari Kematian Ibu.’

Penulis : Nisrina Dwi Cahyani

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja

Posted by
pabelan-online.com